Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai dengan kehendak. Namun
yang harus disadari adalah bagaimana kita bersikap terhadap realita yang
terjadi. Hal-hal sederhana dapat kita tangkap maknanya sebagai sebuah
pesan akan berharganya sebuah kehidupan. Namun tanpa disadari terkadang
manusia justru hidup dalam pergulatan akan konsepsi dasarnya sebagai
manusia itu sendiri. Ia sengaja membatasi kehidupan yang sebenarnya
tidak perlu karena kehidupan itu panjang tidak berujung.
Sebagai
citra Allah sebenarnya setiap manusia memiliki daya kodrati dan
adikodrati. Daya kodrati meliputi akal budi, hati nurani dan kehendak
bebas, sedangkan daya adikodrati adalah daya dari luar tubuh manusia
yang sering disebut sebagai daya ilahi. Yang sering menjadi keprihatinan
adalah bagaimana manusia menyeimbangkan akal budi, hati nurani,
kehendak bebas dan daya ilahi tersebut. Realita yang sering terjadi
adalah manusia menutup dirinya seakan-akan tidak lagi memiliki hati
nurani. Yang ditonjolkan adalah kehendak bebasnya padahal kehendak bebas
di sini adalah kebebasan yang bertanggung jawab, "kebebasan untuk" bukan "kebebasan dari".
Sebagai
seorang manusia beriman, hati nurani sangat penting untuk
menyeimbangkan kondisi dasar kehidupan kita (termasuk akal budi,
kehendak bebas dan daya ilahi). Hati nurani adalah bagian integral yang
dimiliki setiap orang dan pada dasarnya hati nurani setiap manusia
adalah baik adanya (Karena manusia citra Allah maka manusia pun memiliki
substansi dasar seperti Allah yaitu baik). Namun yang sering
terjadi adalah manusia lebih menentukan arah hidupnya pada hal-hal
duniawi dan menutup mata akan semangat humanisme. Peperangan, teror bom,
korupsi dan lain sebagainya adalah contoh realita manusia yang menutup
hati nuraninya demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Perlu
digarisbawahi hati nurani sangat perlu bagi kelangsungan hidup setiap
manusia. Tanpa hati nurani manusia hanyalah seonggok daging tak
bermakna. Yang membedakan manusia dengan hewan atau tumbuhan adalah hatu
nurani itu sendiri (beserta daya kodrati lainnya). Marilah kita menjadi
manusia yang memiliki hati nurani yang peka terhadap realita sosial
yang terjadi di sekeliling kita. Semoga kita dapat menjadi garam dan
terang di masyarakat. Senjata paling sakti adalah hati manusia yang
dibakar oleh kekuatan kehendaknya.
Ad Maiorem Dei Gloriam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar